Maha Tao Maitreya
Tujuan Maha Tao Maitreya adalah merealisasikan moral
kebajikan berdasarkan hati nurani, menjalankan maha bakti, mengamalkan
Pancasila Buddhis, mengubah tabiat jelek ( misalnya berjudi, bermabukan dan
sebagainya ), menaati hukum, menghemat sandang pangan ( termasuk sebutir nasi
dan setetes air ), bersyukur kepada langit dan bumi, hidup bersahaja demi
kesejahteraan generasi berikut, meneladani sifat luhur para Buddha Bodhisatva,
hidup penuh kesabaran dan ketabahan, tidak temperamental, berlapang dada,
niscaya rezeki akan berlimpah. Wajah penuh kasih dan senantiasa tertawa riang
akan dapat menghilangkan penderitaan dan keresahan. Beberapa dasa warsa silam, dalam
sebuah media televisi nasional ada mempromosikan hidup sehat melalui tertawa.
Ilmu kedokteran juga telah membuktikan bahwa tertawa itu adalah sehat. Tertawa
adalah ciri khas Buddha Maitreya.
Apakah hati nurani itu ? Tenggang rasa dan tidak melukai orang
lain adalah perwujudan hati nurani. Menarik sekali apa yang disampaikan oleh
Wakil Presiden Tiongkok, Hu Jin Tao (2002) saat berpidato di Kuala
Lumpur -Malaysia ,
“Apa yang tidak dikehendaki oleh diri
sendiri, jangan diberikan kepada orang lain.”Ini adalah kutipan yang
diajarkan oleh Orang Suci terdahulu, yang ternyata selaras dengan apa yang
disampaikan dalam Ajaran Maha Tao Maitreya . Jikalau semua pemimpin Negara
dapat merealisasikan kalimat tersebut diatas, maka kekacauan dan peperangan di
dunia ini akan berkurang bahkan berhenti.
Mengapa dalam Ajaran Maha Tao Maitreya tidak mengutamakan
pembacaan paritta suci ? Hal ini juga tidak terlepas dari ajaran Sang Buddha
Sakyamuni yang memang tidak mewajibkan pengikut-Nya untuk membaca paritta suci.
Sesuai dengan karakteristik Agama Buddha yang dinamis dan berkembang ( Mahayana
) dengan sejumlah aliran yang ada. Buddhisme Zen yang diajarkan oleh
Bodhidharma adalah salah satu aliran yang tidak mengutamakan pembacaan paritta
suci. Master Bodhidharma asal
Patriat Buddhisme Zen ke-6, Master Hui Neng, pada era
Dinasti Tang di Propinsi Guangdong, Distrik Nanhua, adalah Mahaguru yang buta
huruf dan tidak bisa mengeja aksara, terlebih-lebih tidak bisa membaca paritta
suci; namun Beliau dikenang sebagai Master Buddhisme Zen yang terkemuka dalam
sejarah Agama Buddha Mahayana. Salah satu Sutra Buddhis Maharatnakuta yang
berisi sabda Sang Buddha Sakyamuni tentang Maiteya telah dibaca dan dikaji
generasi demi generasi. Ringkasan utama dari sutra tersebut adalah tentang masa
kedatangan Maitreya .
Dalam Sutra Buddhis juga tercatat bahwa pernah suatu ketika
Sang Buddha melambaikan Bunga Bala, yang direspon dengan senyuman oleh Maha
Kassyapa. Ini adalah transmisi sejati dari hati ke hati oleh Sang Buddha
Sakyamuni tanpa perlu aksara tulisan dan bahasa. Dalam Sutra Intan jelas
tertulis,” Barang siapa yang mencari Aku
melalui bunyi suara dan bahasa, maka
orang tersebut selamanya tidak akan pernah menemukan Sang Tathagatha.” Berdasarkan
kutipan-kutipan diatas, maka inilah menjadi dasar alasan utama mengapa dalam
Ajaran Maha Tao Maitreya tidak mengutamakan pembacaan paritta suci. Ajaran Maha
Tao Maitreya mengajarkan semangat ke-Bodhisatvaan dengan berkarya dalam
penyelamatan orang lain. Jika penderitaan orang lain telah terselesaikan, maka
kesempurnaan kesucian diri sendiri akan tercapai dengan sendirinya. Inilah yang
disebut dengan pengamalan hati nurani.
Jika hati nurani setiap manusia telah teraktualisasi , maka
perwujudannya adalah moral kebajikan berupa bakti kepada orang tua, saling
menyayangi di antara sesama saudara hingga setiap keluarga menjadi harmonis,
masyarakat menjadi tenteram, Negara menjadi makmur dan dunia menjadi damai
sentosa. Pada abad ke-16, seorang peramal mengatakan kelak di dunia ini akan
ada kekuatan yang bisa menyatukan semua umat manusia .
Bagi kita, tafsirannya adalah kekuatan hati nurani. Hati
nurani begitu bening dan suci, tiada sekat pemisah antara suku, agama, warna
kulit, ras dan kepercayaan . Kalau dunia tidak ada lagi jarak pemisah, maka
impian dunia satu keluarga akan terwujud. Inilah yang menjadi cita-cita utama
dari Ajaran Maha Tao Maitreya.
Oleh : Maha Sesepuh Gautama Hardjono
Ditulis Kembali Oleh : Pdt. Satya Vira, S.Pd.B
***
No comments:
Post a Comment