berapa banyak waktu yang kumiliki untuk
berkarya suci?
Cukup panjangkah usia untuk menyelesaikan
tugas mulia yang telah LaoMu berikan
padaku?
berapa banyak waktu yang kumiliki untuk
berkarya suci?
Cukup panjangkah usia untuk menyelesaikan
tugas mulia yang telah LaoMu berikan
padaku?
kita datang sendiri.
Tidak ada yang menemani.
Kita datang dengan karma
dan dosa kita sendiri.
Ketika napas terakhir tiba,
kita pergi sendiri,
membawa karma dan dosa.
Tiada yang menemani…
Suka atau tidak, kita harus menerima segala
duka derita hidup ini.
Sebab kita yang melakukan karma, dan kitalah
yang menerima buah akibatnya…
Kita bertanggung jawab atas apa yang telah
kita lakukan.
Pada hakikatnya,
kita selalu sendirian. Tidak ada siapa-siapa
yang dapat mendampingi kita.
Sebab tidak ada ibu dan bapak yang selamanya…
Tidak ada suami-istri dan putra-putri yang
abadi di dunia…
Inilah hakikat kehidupan.
Meskipun banyak harta yang Anda miliki,
meskipun tinggi jabatan Anda, dan
meskipun erat hubungan anak istri
dengan Anda,
Pada akhirnya semuanya harus dilepaskan.
Tinggal Anda sendiri…
Sendiri menjalani kelahiran dan kematian.
Sendiri berkelana dan menderita dalam
samsara…
Dari kalpa yang tak terhitung lamanya di masa lalu hingga
kalpa yang tak terhitung di masa depan,
Anda selalu sendirian…
Inilah sebabnya mengapa Anda membutuhkan
kasih dan kebenaran Tuhan yang abadi.
Selama ini kita boleh menganggap hidup kita datar-datar saja. Rasanya tak pernah sekalipun melakukan kesalahan besar atau dosa yang tak terampunkan. Paling-paling berseteru dengan orang lain, bergosip ria membicarakan keburukan orang, sakit hati lalu bermusuhan dengan orang, dan sebagainya. Sepertinya bukan sebuah dosa besar yang patut diperhitungkan. Toh setiap orang kelihatannya juga begitu, dan bukankah jadi impas ketika kita juga melakukan hal serupa kepada orang lain? Mungkin seperti itulah pikiran-pikiran bodoh kita selama ini yang terus mengira diri begitu suci dan tanpa dosa. Padahal tanpa disadari, ternyata kita sudah menjadi si munafik yang tak pernah sadar telah berbuat kesalahan, meski sekecil apa pun kadar kesalahan itu.
Berikut adalah pelajaran berharga dari sang penguasa langit:
Elang memiliki kemampuan untuk fokus pada mangsanya dari jarak ribuan meter di tengah pemandangan yang luas. Ia tidak terdistraksi oleh hal-hal kecil di sekitarnya.
Refleksi Maitreya: Dalam hidup, kita sering terjebak dalam detail-detail sepele yang memicu kemarahan atau kekhawatiran. Elang mengajarkan kita untuk memiliki "Pandangan Benar"—melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas (perspektif Tuhan/Maitreya), sehingga kita tahu mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya sementara.