Apakah jadwal dan rencana hidup kita,
meski
sering berantakan di awal, tetapi selalu indah pada akhirnya?
Adakah
kita menyisakan sebuah jadwal
untuk
bertobat dan terus bertobat sepanjang hidup kita?
Selama ini kita mungkin sungguh kesal ketika jadwal dan rencana yang telah disusun demikian apik dan rapi mendadak harus berantakan hanya karena sesuatu dan lain hal. Atau masalah sepele lantaran ulah anak yang tak bisa diajak kompromi. Kita memang sudah terbiasa hidup sesuai jadwal selama ini. Dan ketika ritme hidup tiba-tiba berubah akibat sesuatu dan lain hal yang berbentuk cobaan dan rintangan yang berada di luar kendali kuasa dan rencana kita, tiba-tiba saja diri ini menjadi begitu kelabakan, stres, tertekan, dan putus asa.
Tetapi pernahkah kita berpikir bagaimana Tuhan tetap mendengar doa dan jeritan hati kita, meski di malam buta sekalipun saat di mana orang-orang sedang terlelap dalam tidur berbalut mimpi.
Coba andaikan kita berada pada posisi seperti itu. Menerima telepon di malam buta hanya karena ada seseorang yang mendadak meminta tolong atau sekadar ingin curhat saja. Bukankah kita akan sangat kesal dan kelabakan lantaran merasa jadwal tidur sudah terganggu hanya karena permintaan sepele yang kebetulan ‘emergensi’ atau penting itu? Atau segudang kekesalan lantaran harus mendengar tangisan anak sendiri yang tak bisa tidur di malam buta, sementara kita sudah begitu lelah dan mengantuk?
Rasanya tak ada seorang pun yang tidak pernah sibuk di dunia ini. Semua orang selalu sibuk, itu sudah pasti. Sibuk inilah, itulah, yang berlabelkan kepentingan pribadi. Ada orang yang saking sibuknya sampai lupa makan, tidur, dan sebagainya. Setiap orang selalu sibuk untuk diri sendiri. Mungkin ada sebagian orang baik yang justru selalu sibuk untuk sesama dan tak pernah punya waktu untuk diri sendiri. Tetapi pada umumnya setiap orang selalu sibuk, apa pun itu. Dan jadwal kesibukan setiap orang tentu berbeda sesuai dengan ritme hidupnya. Pertanyaannya adalah pernahkah kita memasukkan pertobatan ke dalam kesibukan jadwal hidup kita?
Kebisingan dan kepadatan jadwal hidup dari pagi hingga malam, lalu berganti pagi lagi dan seterusnya, memang sungguh melelahkan. Bukan tidak mungkin semua itu bahkan membuat kita lupa untuk meluangkan waktu sekadar berintrospeksi diri, apalagi bertobat dan merombak diri. Tetapi pernahkah kita berpikir betapa sia-sianya hidup ini andai kata hanya dihabiskan dengan sibuk tak menentu demi mengejar kesenangan pribadi yang fana, sementara kita justru mengabaikan kewajiban hati nurani untuk bertobat, padahal itulah jalan menuju kebahagiaan sejati?
Boleh saja kita disibukkan dengan berbagai jadwal yang telah disusun dengan begitu apik dan terencana. Tetapi hendaknya semua jadwal itu tidak sampai membutakan mata hati kita sehingga tak mampu berbuat secuil kebaikan untuk sesama. Boleh jadi saking sibuknya sampai tak punya waktu untuk mendatangi Rumah Tuhan. Tetapi toh semua itu tak boleh sampai merintangi momen-momen untuk tetap berkontak hati dengan Tuhan, meski hanya lewat sebuah perenungan, penginsafan, dan pertobatan yang tulus kepada-Nya.
Tak ada sesuatu pun yang mampu memisahkan pertautan hati antara ibu dan anak, ataupun antara Tuhan dengan kita. Karena itu, sepadat apa pun jadwal harian hidup kita, hendaknya selalu ada ruang untuk Tuhan melalui sebuah pertobatan sejati.
Meski jadwal dan rencana hidup yang sudah disusun dengan rapi dan mulus pada awalnya seolah berantakan lantaran cobaan dan rintangan kehidupan. Tetapi dengan iman dan ketulusan bersandar dan menyerahkan segalanya ke tangan Tuhan, niscaya selalu akan indah pada akhirnya.
Sebuah jadwal kehidupan boleh saja berantakan, tetapi tidak untuk jadwal pertobatan. Sudah saatnya kita lebih berkonsentrasi pada jadwal pertobatan di tengah-tengah jeda kehidupan ini. Sebab jadwal pertobatan yang dijalani dengan sepenuh hati akan selalu menjanjikan keindahan yang abadi pada akhirnya.
Ketika mampu
bertobat dan terus bertobat di sepanjang perjalanan hidupnya, ternyata sebuah
jalan terang telah menanti di lorong kenyataan, menyambut diri yang kembali
pada putih bersih jati dirinya yang semula.
Tuhan,
Bimbinglah
aku, ya Tuhan, untuk terus bertobat dan
memperbaiki
diri!
No comments:
Post a Comment