Meski hidup bagai sebuah mimpi,
tetapi terlalu berharga untuk disia-siakan begitu saja.
Layaknya seorang yang berkearifan dan bercinta kasih, kita seolah terlihat begitu bijaksana menentukan bagaimana menghadapi hidup ketika ketidaklancaran menerpa. Dengan entengnya kita bisa menawarkan segudang solusi kepada orang lain yang sedang didera cobaan untuk tetap tawakal dan sabar menyikapi atau memandang setiap masalah yang sedang dihadapi. Tetapi bagaimana ketika masalah serupa justru terjadi pada diri kita sendiri? Boleh jadi kita akan sangat kelabakan dan tidak siap untuk menerima kenyataan seperti itu. Ketika tak mampu menerima kenyataan hidup yang menerpa, maka itu akan menjadi sebuah masalah. Serta-merta hilang pulalah segala kearifan dan cinta kasih yang sebelumnya seolah begitu kuat bercokol di dalam diri ini. Pernahkah kita mempertobatkan semua itu?
Hidup
adalah panggung sandiwara. Bagaikan sebuah mimpi yang ketika berujung pada maut
maka hilanglah segalanya. Tak ada yang bisa dibawa pergi. Yang tertinggal
hanyalah penyesalan mengapa ketika hidup tak pernah berbuat kebaikan dan sesuai
nurani. Bukankah hidup akan berakhir tragis ketika baru terjaga di akhir napas
yang tinggal tersisa satu per satu? Bukankah akan sangat terlambat ketika baru
berniat untuk bertobat ketika sudah berada di ujung maut?
Sungguh
hidup sulit diprediksi. Bahkan kalau mau dipertanyakan, tak ada seorang pun
yang menginginkan hidupnya sengsara dan pahit bahkan berujung tragis. Kalau
boleh memilih, mungkin siapa pun tak akan pernah mau memilih jalan hidup yang
seolah begitu berat dan pahit untuk sekadar ditapaki. Tetapi apa daya ketika
nasib dan takdir sudah digariskan. Bukankah terus berkeluh kesah dan
mempertanyakan semuanya hanya membuang energi, lantaran semua itu sama sekali
tak bisa mengubah keadaan?
Ketika
hidup terasa begitu berat dan pahit, sering kali keputusasaan dan depresi
menggiring seseorang untuk melepaskan diri dari semua kepahitan itu. Mengambil
jalan pintas untuk mengakhiri segalanya bahkan mengorbankan hidup yang begitu
berharga ini. Pantaskah kita mengorbankan hidup yang telah dianugerahkan Tuhan
kepada kita? Bukankah sesungguhnya kita tidak memiliki apa pun kecuali cinta
kasih Tuhan dan berkah dari-Nya? Bahkan hidup yang seolah kita miliki ini pun
berasal dari Tuhan dan sama sekali bukanlah milik kita. Lantas begitu mudahkah
kita mengakhiri hidup ini, padahal yang berkuasa atas hidup ini bukanlah kita
melainkan Tuhan? Pernahkah kita bertobat atas segala niat untuk mengakhiri
hidup ini ketika tak mampu menghadapi cobaan hidup dengan sabar dan tawakal?
Bukankah dosa besar apabila bermaksud mengakhiri hidup pemberian Tuhan yang
begitu berharga kepada kita ini?
Sungguh
ironi selama ini kita begitu angkuhnya mengira semua yang dimiliki di dunia ini
adalah milik sendiri atau “private property”. Merasa semuanya seolah bisa
seenaknya dikendalikan oleh kita, bahkan terhadap anak sendiri pun kita merasa
berkuasa penuh sehingga bersikap otoriter dan terus mengarahkan mereka sesuai
kehendak kita. Padahal anak adalah individu yang juga memiliki perasaan dan
keinginannya sendiri.
Dan yang
terpenting, pada dasarnya semuanya bukanlah milik kita melainkan Tuhan. Kalau
begitu atas dasar apa kita selalu memaksakan kehendak kepada anak sendiri dan
terus menuntut agar mereka berbuat sesuai keinginan kita, padahal mereka juga
punya hak asasi untuk hidup sebagai individu seutuhnya? Bukan berarti sebagai
orang tua lantas tidak mau tahu dengan urusan si anak dan membiarkan mereka
berkembang tanpa pengawasan hingga terlibat dalam pergaulan bebas dan
sebagainya. Melainkan orang tua yang bijak dan betul-betul mengasihi anaknya
pasti akan selalu berusaha mengawasi dan melindungi anaknya, meski dari jauh
dan diam-diam. Bahkan dengan kasih yang tidak menekan atau menyakiti, hingga
tidak membuat anaknya merasa terkungkung dan berontak. Bukankah Tuhan
senantiasa mengasihi kita semua anak-anak-Nya dengan cara-Nya yang penuh kasih
dan kearifan sehingga kita merasa nyaman terlindungi di dalam kasih-Nya yang
tidak menekan dan tidak menyakiti? Sebagai orang tua yang selalu otoriter
kepada anaknya, pernahkah kita mempertobatkan keangkuhan yang dimiliki itu?
Terkadang
malu rasanya mengaku diri sudah puluhan tahun membina diri, tetapi tak pernah
sekalipun bertobat apalagi memperbaiki diri. Segala kebiasaan buruk masih saja
terus melekat di diri ini bahkan kebiasaan buruk itu semakin bertambah dari
hari ke hari. Kadang kalau dipikir-pikir dan dibandingkan dengan dulu, ternyata
yang dulunya begitu sabar dan tak pernah bisa memarahi orang malah kini berubah
menjadi sosok yang begitu emosional atau temperamental bahkan suka memaki dan
menyumpahi orang lain. Sungguh semua itu bukanlah perubahan yang baik bahkan
sangat fatal dan merugikan sesama maupun diri sendiri. Lantas sudahkah kita
bertobat atas segala transformasi diri yang semakin menuju keburukan bukannya
kebaikan?
Mungkin di
dalam satu babak kehidupan atau di satu hari yang diagungkan, kita berketetapan
hati untuk menahan amarah dan tidak sampai menyakiti sesama. Sekali, dua kali
mungkin masih bisa diredam, tetapi bagaimana ketika emosi terus dipancing dan
disulut? Bisakah kita menahan diri untuk tetap sabar dan tidak sampai mengumbar
emosi yang telah meledak-ledak di dalam hati? Kadang kita memang masih harus
banyak belajar bagaimana mengendalikan emosi yang begitu mudah terbakar meski
hanya dipancing oleh hal-hal kecil yang tak berarti.
Kita sering
berjanji kepada Tuhan untuk berubah dan bertobat, tetapi ironisnya justru tak
pernah dilakukan dengan konsekuen dan konsisten. Mungkin kadang kita mencoba
untuk sehari saja tidak mengumbar kebiasaan buruk emosional, tetapi akhirnya
gagal juga hanya karena alasan-alasan sepele yang tidak berarti. Sungguh niat
untuk bertobat yang tadinya begitu suci dan luhur akhirnya malah ternodai
lantaran tak mampu menahan diri. Akhirnya janji tinggal janji dan kita pun
terus hidup di dalam kebiasaan buruk dan tak pernah berubah.
Padahal
Tuhan selalu menepati janji keselamatan-Nya untuk kita. Tetapi kita sekalipun
tak pernah bisa menepati janji-janji kecil kita kepada Tuhan yang telah
diikrarkan dengan entengnya di hadapan-Nya. Sungguh ironis. Bertobatlah atas
segala janji palsu yang telah diucapkan kepada Tuhan yang bahkan tak pernah
ditepati sepanjang hidup hingga maut menjemput.
Dan ketika
mampu mempertobatkan semua itu serta memperbaiki diri sebelum terlambat,
niscaya selalu ada kemenangan itu. Sebab dengan sendirinya kita telah
memenangkan diri ini sehingga bisa bangkit dari kesesatan menuju kecemerlangan
nurani. Sebaliknya apabila tak mampu bertobat apalagi memperbaiki diri semasa
hidup, jangan berharap bisa pergi dari dunia ini dengan segala keagungan. Bukan
tidak mungkin orang-orang justru akan tertawa kegirangan bukannya menangisi
kepergian kita. Tak hanya itu, kita pun tak akan mampu mengangkat kepala di
hadapan Tuhan lantaran semasa hidup tak pernah mempertobatkan segala dosa dan
kesesatan.
Hidup
terlalu berharga untuk disia-siakan begitu saja tanpa pertobatan sejati. Hidup
menjadi luhur ketika setiap momen mampu bertobat sekaligus memperbaiki diri.
Semasa hidup bisa bertobat dan terus bertobat, maka itulah sebuah kemenangan
sejati atas hidup ini. Karena itu, jangan pernah menyia-nyiakan hidup pemberian
Tuhan yang begitu berharga ini dan isilah hidup dengan pertobatan sejati.
Hidup
untuk bertobat dan bertobat untuk hidup
yang
lebih baik.
Sebuah
motto hidup yang pantas untuk dipraktikkan
seumur
hidup.
No comments:
Post a Comment