March 21, 2026

Hidup Terlalu Berharga, Bertobatlah... (Part 4/6)

 


Meski hidup bagai sebuah mimpi,

tetapi terlalu berharga untuk disia-siakan begitu saja.

Meski mati adalah kepastian,
bisa bertobat semasa hidup adalah kemenangan.

 

          


    Layaknya seorang yang berkearifan dan bercinta kasih, kita seolah terlihat begitu bijaksana menentukan bagaimana menghadapi hidup ketika ketidaklancaran menerpa. Dengan entengnya kita bisa menawarkan segudang solusi kepada orang lain yang sedang didera cobaan untuk tetap tawakal dan sabar menyikapi atau memandang setiap masalah yang sedang dihadapi. Tetapi bagaimana ketika masalah serupa justru terjadi pada diri kita sendiri? Boleh jadi kita akan sangat kelabakan dan tidak siap untuk menerima kenyataan seperti itu. Ketika tak mampu menerima kenyataan hidup yang menerpa, maka itu akan menjadi sebuah masalah. Serta-merta hilang pulalah segala kearifan dan cinta kasih yang sebelumnya seolah begitu kuat bercokol di dalam diri ini. Pernahkah kita mempertobatkan semua itu?

            Hidup adalah panggung sandiwara. Bagaikan sebuah mimpi yang ketika berujung pada maut maka hilanglah segalanya. Tak ada yang bisa dibawa pergi. Yang tertinggal hanyalah penyesalan mengapa ketika hidup tak pernah berbuat kebaikan dan sesuai nurani. Bukankah hidup akan berakhir tragis ketika baru terjaga di akhir napas yang tinggal tersisa satu per satu? Bukankah akan sangat terlambat ketika baru berniat untuk bertobat ketika sudah berada di ujung maut?

            Sungguh hidup sulit diprediksi. Bahkan kalau mau dipertanyakan, tak ada seorang pun yang menginginkan hidupnya sengsara dan pahit bahkan berujung tragis. Kalau boleh memilih, mungkin siapa pun tak akan pernah mau memilih jalan hidup yang seolah begitu berat dan pahit untuk sekadar ditapaki. Tetapi apa daya ketika nasib dan takdir sudah digariskan. Bukankah terus berkeluh kesah dan mempertanyakan semuanya hanya membuang energi, lantaran semua itu sama sekali tak bisa mengubah keadaan?

            Ketika hidup terasa begitu berat dan pahit, sering kali keputusasaan dan depresi menggiring seseorang untuk melepaskan diri dari semua kepahitan itu. Mengambil jalan pintas untuk mengakhiri segalanya bahkan mengorbankan hidup yang begitu berharga ini. Pantaskah kita mengorbankan hidup yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita? Bukankah sesungguhnya kita tidak memiliki apa pun kecuali cinta kasih Tuhan dan berkah dari-Nya? Bahkan hidup yang seolah kita miliki ini pun berasal dari Tuhan dan sama sekali bukanlah milik kita. Lantas begitu mudahkah kita mengakhiri hidup ini, padahal yang berkuasa atas hidup ini bukanlah kita melainkan Tuhan? Pernahkah kita bertobat atas segala niat untuk mengakhiri hidup ini ketika tak mampu menghadapi cobaan hidup dengan sabar dan tawakal? Bukankah dosa besar apabila bermaksud mengakhiri hidup pemberian Tuhan yang begitu berharga kepada kita ini?

            Sungguh ironi selama ini kita begitu angkuhnya mengira semua yang dimiliki di dunia ini adalah milik sendiri atau “private property”. Merasa semuanya seolah bisa seenaknya dikendalikan oleh kita, bahkan terhadap anak sendiri pun kita merasa berkuasa penuh sehingga bersikap otoriter dan terus mengarahkan mereka sesuai kehendak kita. Padahal anak adalah individu yang juga memiliki perasaan dan keinginannya sendiri.

            Dan yang terpenting, pada dasarnya semuanya bukanlah milik kita melainkan Tuhan. Kalau begitu atas dasar apa kita selalu memaksakan kehendak kepada anak sendiri dan terus menuntut agar mereka berbuat sesuai keinginan kita, padahal mereka juga punya hak asasi untuk hidup sebagai individu seutuhnya? Bukan berarti sebagai orang tua lantas tidak mau tahu dengan urusan si anak dan membiarkan mereka berkembang tanpa pengawasan hingga terlibat dalam pergaulan bebas dan sebagainya. Melainkan orang tua yang bijak dan betul-betul mengasihi anaknya pasti akan selalu berusaha mengawasi dan melindungi anaknya, meski dari jauh dan diam-diam. Bahkan dengan kasih yang tidak menekan atau menyakiti, hingga tidak membuat anaknya merasa terkungkung dan berontak. Bukankah Tuhan senantiasa mengasihi kita semua anak-anak-Nya dengan cara-Nya yang penuh kasih dan kearifan sehingga kita merasa nyaman terlindungi di dalam kasih-Nya yang tidak menekan dan tidak menyakiti? Sebagai orang tua yang selalu otoriter kepada anaknya, pernahkah kita mempertobatkan keangkuhan yang dimiliki itu?

            Terkadang malu rasanya mengaku diri sudah puluhan tahun membina diri, tetapi tak pernah sekalipun bertobat apalagi memperbaiki diri. Segala kebiasaan buruk masih saja terus melekat di diri ini bahkan kebiasaan buruk itu semakin bertambah dari hari ke hari. Kadang kalau dipikir-pikir dan dibandingkan dengan dulu, ternyata yang dulunya begitu sabar dan tak pernah bisa memarahi orang malah kini berubah menjadi sosok yang begitu emosional atau temperamental bahkan suka memaki dan menyumpahi orang lain. Sungguh semua itu bukanlah perubahan yang baik bahkan sangat fatal dan merugikan sesama maupun diri sendiri. Lantas sudahkah kita bertobat atas segala transformasi diri yang semakin menuju keburukan bukannya kebaikan?

            Mungkin di dalam satu babak kehidupan atau di satu hari yang diagungkan, kita berketetapan hati untuk menahan amarah dan tidak sampai menyakiti sesama. Sekali, dua kali mungkin masih bisa diredam, tetapi bagaimana ketika emosi terus dipancing dan disulut? Bisakah kita menahan diri untuk tetap sabar dan tidak sampai mengumbar emosi yang telah meledak-ledak di dalam hati? Kadang kita memang masih harus banyak belajar bagaimana mengendalikan emosi yang begitu mudah terbakar meski hanya dipancing oleh hal-hal kecil yang tak berarti.

            Kita sering berjanji kepada Tuhan untuk berubah dan bertobat, tetapi ironisnya justru tak pernah dilakukan dengan konsekuen dan konsisten. Mungkin kadang kita mencoba untuk sehari saja tidak mengumbar kebiasaan buruk emosional, tetapi akhirnya gagal juga hanya karena alasan-alasan sepele yang tidak berarti. Sungguh niat untuk bertobat yang tadinya begitu suci dan luhur akhirnya malah ternodai lantaran tak mampu menahan diri. Akhirnya janji tinggal janji dan kita pun terus hidup di dalam kebiasaan buruk dan tak pernah berubah.

            Padahal Tuhan selalu menepati janji keselamatan-Nya untuk kita. Tetapi kita sekalipun tak pernah bisa menepati janji-janji kecil kita kepada Tuhan yang telah diikrarkan dengan entengnya di hadapan-Nya. Sungguh ironis. Bertobatlah atas segala janji palsu yang telah diucapkan kepada Tuhan yang bahkan tak pernah ditepati sepanjang hidup hingga maut menjemput.

            Dan ketika mampu mempertobatkan semua itu serta memperbaiki diri sebelum terlambat, niscaya selalu ada kemenangan itu. Sebab dengan sendirinya kita telah memenangkan diri ini sehingga bisa bangkit dari kesesatan menuju kecemerlangan nurani. Sebaliknya apabila tak mampu bertobat apalagi memperbaiki diri semasa hidup, jangan berharap bisa pergi dari dunia ini dengan segala keagungan. Bukan tidak mungkin orang-orang justru akan tertawa kegirangan bukannya menangisi kepergian kita. Tak hanya itu, kita pun tak akan mampu mengangkat kepala di hadapan Tuhan lantaran semasa hidup tak pernah mempertobatkan segala dosa dan kesesatan.

            Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan begitu saja tanpa pertobatan sejati. Hidup menjadi luhur ketika setiap momen mampu bertobat sekaligus memperbaiki diri. Semasa hidup bisa bertobat dan terus bertobat, maka itulah sebuah kemenangan sejati atas hidup ini. Karena itu, jangan pernah menyia-nyiakan hidup pemberian Tuhan yang begitu berharga ini dan isilah hidup dengan pertobatan sejati.

 

Hidup untuk bertobat dan bertobat untuk hidup

yang lebih baik.

Sebuah motto hidup yang pantas untuk dipraktikkan

seumur hidup.

 

No comments:

Post a Comment