Kehidupan sungguh rumit dan pelik untuk dipahami. Bahkan untuk belajar tentang hidup membutuhkan waktu sepanjang napas yang dimiliki. Begitu banyak rahasia di dalam hidup yang bahkan sampai di ujung napas pun tak akan sempat terkuak seluruh misterinya. Kehidupan memang memiliki banyak misteri yang terkadang membuat diri seolah putus asa untuk menyingkapinya. Adakah hidup yang lebih berarti selain mampu hidup di dalam pertobatan? Selalu bertobat dan terus bertobat hingga akhirnya menemukan jati diri sesungguhnya. Dengan kata lain, bertobat di dalam hidup yang singkat dan penuh misteri ini mungkin akan sedikit meringankan beban di hati yang terlampau berat untuk mengenal sebuah keterlepasan.
Dalam hidup ini sudah begitu banyak yang terjadi. Dan semua kejadian demi kejadian itu ada yang memang berada di dalam kendali perbuatan kita meski banyak pula yang di luar kendali pemikiran bahkan kuasa kita. Tidak semulus hidup yang seolah berada di atas jalan tol, kenyataannya justru hidup yang ada sering harus berlokasi di atas bebatuan terjal cobaan yang sangat rumit dan berliku. Meski harus jatuh bangun dan kadang sampai putus asa menjalaninya, toh hidup tetap menyisakan sedikit asa dan ruang untuk sebuah kebahagiaan dan keleluasaan walau begitu singkat dan sementara. Yang pasti hidup tetap harus dijalani meski berada di tubir jurang kehancuran yang menggelisahkan.
Ketika sedang dihadapkan pada cobaan yang sangat berat dan tidak terbayangkan sebelumnya, rasanya seperti dipaksa untuk masuk ke dalam jurang kepahitan yang terlampau dalam. Hidup seolah berbalik seratus delapan puluh derajat. Bahkan mungkin tiga ratus enam puluh derajat. Kebahagiaan seolah direnggut dengan paksa dari kenyamanan hidup yang sedang dijalani. Ujung-ujungnya seolah diri ini melayang di atas awan kegelisahan dan merasa terus berada di awang-awang tanpa pernah berniat untuk kembali menjejakkan kaki di atas panggung kenyataan sesungguhnya. Seolah diri ini menolak segala kenyataan hidup yang sangat pahit dan bagai mimpi. Tak ada lagi ruang untuk sekedar merasa nyaman atau terlindung. Tiba-tiba hidup berubah menjadi begitu melelahkan dan sulit diterka. Di atas segala ketidaknyamanan yang dirasakan, justru diri ini sedang digiring menuju sebuah pertobatan. Yah, apalagi yang harus dilakukan untuk sedikit meringankan beban kehidupan kalau bukan melalui sebuah perenungan, penginsafan menuju pertobatan dan perbaikan diri?
Kehidupan boleh terasa berat, pahit, getir, suram, berliku dan berbatu-batu cadas yang seolah onak duri yang terus melukai jejak langkah kita. Tetapi semua itu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti lalu meratapi terus nasib jelek ini dan tidak berbuat apa-apa lagi. Hidup boleh jadi begitu pahit dengan berbagai cobaan dan rintangan yang melelahkan. Dan semua kepahitan itu boleh meluluh-lantakkan atau menghancurkan perasaan kita, tetapi tidak kesejatian jiwa dan keimanan kepada Tuhan. Mungkin hidup boleh kelihatannya begitu pahit dan suram, tetapi sepahit dan sesuram apapun itu tak pernah boleh sampai menghentikan sebentuk niat yang tulus dan murni dari dalam diri untuk berintrospeksi diri dan bertobat. Boleh jadi semua itu akan dianggap omong kosong bagi orang-orang yang memandang sinis akan sebuah perubahan yang lahir dari keinginan luhur untuk bertobat.
Tetapi ketika ada niat seluhur itu untuk berintrospeksi diri, bertobat dan segera memperbaiki diri, niscaya Tuhan beserta para Buddha-Bodhisatva akan serta-merta mengamini dan merestui niat tersebut. Sejahat apapun seseorang asalkan ia mampu bertobat dengan sepenuh hati dan melakukan perbaikan diri secara radikal niscaya selalu ada jalan terang dan hari esok yang lebih baik untuknya. Tidak peduli betapapun banyak dosa kesalahan yang telah diperbuat, asalkan ada setitik niat suci untuk bertobat dan memperbaiki diri pasti akan selalu diberkati Tuhan. Daripada menganggap diri sendiri suci dan tiada berdosa padahal begitu banyak dosa kesalahan yang telah dilakukan tanpa disadari yang tak pernah dipertobatkan seumur hidupnya.
Mungkin pada sebuah rentang waktu
kita merasa jadi begitu muak dengan dunia ini. Dunia dimana orang-orang di
dalamnya begitu munafik, saling bertikai, tak mau mengalah dan terus mengumbar
atau membongkar kebusukan satu sama lain. Pada babak kehidupan seperti itu kita
jadi merasa begitu putus asa dan hati begitu tawar mendapati kenyataan
orang-orang yang terus-menerus memojokkan kita bahkan saling mengumbar dan
membongkar aib atau kebusukan sesama. Muak sekali dan bosan melihat orang-orang
yang terus membicarakan keburukan orang lain, bahkan berusaha membongkar aib
atau kebusukan satu sama lain. Rasanya begitu lelah berada di sekeliling
orang-orang munafik yang terus saling menyalahkan satu sama lain tanpa pernah
sekalipun melongok ke dalam diri sendiri. Atau bahkan kita pun mulai muak
dengan diri sendiri yang terus dipojokkan dan memojokkan orang lain tanpa
merasa berdosa sedikitpun.
Tetapi semua itu toh tidak pernah boleh sampai mengendurkan niat suci untuk terus berintrospeksi diri, bertobat dan memperbaiki diri. Orang-orang boleh menghakimi dan mengorek segala borok kebusukan yang berada di dalam diri ini, tetapi jangan sampai kitalah yang terus-menerus mengumbar dan membongkar aib atau kebusukan orang lain. Pantaskah kita yang penuh dosa ini terus mengungkit-ungkit dan mengumbar kebusukan orang lain sementara kita sendiri pun tak sesuci itu bahkan sama sekali tak jauh berbeda dengan mereka? Jadi atas dasar apa kita harus terus-terusan menjelek-jelekkan orang lain sementara kita sendiri pun tak ada bedanya dengan mereka?
Saling mengumbar dan membongkar aib atau kebusukan satu sama lain bukanlah tindakan yang bijak. Sebab kita semua pun tak luput dari kesalahan dan kekeliruan. Kalau kita telah menjadi orang yang tak pernah melakukan kesalahan dan sudah sesuci itu mungkin baru pantas untuk mengumbar kebusukan orang lain. Tetapi kalaupun kita sudah sesuci itu pastilah akan semakin tak berani untuk bergosip atau membongkar aib dan kebusukan orang lain. Sebab orang suci yang berkearifan dan bercinta kasih tak pernah akan berbuat serendah itu. Daripada saling menyalahkan dan mengumbar kebusukan satu sama lain, bukankah lebih bijaksana bisa saling memaklumi dan memaafkan? Dengan kata lain, adakah yang lebih luhur selain mampu berpaling ke dalam diri sendiri lalu berintrospeksi sekaligus bertobat dan memperbaiki diri?
Hidup boleh jadi begitu singkat dan sementara. Tetapi setidaknya masih menyisakan ruang untuk bertobat dan memperbaiki diri. Meski hidup hanya sementara, tetapi pertobatan itu tidaklah boleh sesementara dan sesingkat itu. Bertobat di dalam hidup artinya terus konsisten bertobat di sepanjang napas yang dimiliki. Selama masih bisa melihat matahari terbit di ufuk Timur setiap pagi, berarti masih ada kesempatan dan waktu untuk bertobat dan terus bertobat. Selagi detak jantung dan napas masih ada berarti kita masih punya kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri. Jangan pernah menjadi orang yang selalu melewatkan waktu dan kesempatan yang dimiliki tanpa pernah sekalipun bertobat dan merombak diri. Ketika masih ada denyut nadi kehidupan, itulah momen dan kesempatan paling berharga untuk bertobat.
Selama
masih bisa melihat matahari terbit di ufuk Timur,
Berarti
masih ada waktu dan kesempatan untuk bertobat.
Selama
masih ada napas dan denyut nadi kehidupan,
Itulah
momen paling berharga di dalam hidup untuk bertobat...
Bagian mana dari diri ini yang masih perlu diperbaiki?
No comments:
Post a Comment