Sering kali, ketakutan kita akan kehilangan membutakan kita dari rencana hidup yang lebih luas. Dalam hukum sebab-akibat yang adil, setiap ruang kosong yang ditinggalkan oleh sesuatu yang pergi sebenarnya menyediakan tempat bagi berkah dan pembelajaran baru untuk hadir. Rasa sakit dari sebuah perpisahan sering kali merupakan cara semesta menempa "otot" spiritual kita agar menjadi lebih kuat dan matang. Ketika kita bersikeras menggenggam apa yang sudah waktunya lepas, kita hanya menumpuk beban penyesalan dan kesedihan yang berlarut-larut. Sebaliknya, dengan menaruh rasa percaya pada proses kehidupan, kita mengizinkan diri kita untuk bertumbuh melampaui batas-batas kedukaan tersebut.
Menghidupkan keikhlasan dalam kesehari-harian adalah praktik nyata dari cinta kasih dan kebijaksanaan Maitreya. Keikhlasan yang tulus membebaskan langkah kaki kita dari rantai masa lalu yang berat, sehingga kita bisa berjalan dengan batin yang seimbang dan ringan. Kita tidak lagi mencemaskan apa yang akan hilang besok, ataupun meratapi apa yang telah pergi kemarin. Dengan hati yang jernih dan penuh harapan, kita mampu menyambut setiap hari baru sebagai lembaran bersih yang siap diisi dengan kebajikan, serta siap menerima apa pun yang datang dan pergi dengan senyuman yang penuh kedamaian.
No comments:
Post a Comment