March 27, 2026

Bertobat & Bersyukur (Part 5/6)

 
Tuhan,
Aku bersyukur masih bisa hidup.
Sehingga aku masih punya kesempatan untuk bertobat...

            Ada sebuah keterkaitan yang sangat erat antara bersyukur dan bertobat. Keduanya memiliki korelasi atau hubungan yang tak dapat dipisahkan. Ketika telah bertobat dengan sepenuh hati, maka jiwa ini akan dipenuhi rasa syukur tak terhingga. Sebaliknya ketika mampu senantiasa bersyukur, barulah bisa bertobat dengan tuntas dan seutuhnya. Di dalam hidup ini apa saja bisa terjadi baik ataupun buruk. Tragedi hidup manusia seolah tak habis dikisahkan dalam berjilid-jilid buku kehidupan. Banyak kejadian yang kelihatannya buruk dan menyakitkan tetapi justru menyimpan begitu banyak hikmah kebaikan dan keindahan. Adakah hidup yang lebih berarti selain mampu bertobat dan bersyukur, sebaliknya bersyukur dan bertobat? Ketika mampu mensyukuri apa pun yang terjadi dalam kehidupan, niscaya selalu ada celah untuk sebuah pertobatan sejati. Sebaliknya ketika mampu bertobat dengan tulus dan tidak main-main, maka hidup pasti akan selalu disyukuri dengan indah.

            Di dalam babak demi babak kehidupan, mungkin kita sering merasa depresi dan putus asa. Berharap mukjizat tetapi ternyata tak pernah ada. Berharap kebaikan malah mendapat keburukan atau kemalangan. Begitu banyak yang disesali di dalam hidup dan terlalu banyak yang tak mampu disyukuri dengan semestinya. Kalau dipikir-pikir, rasanya kita sudah terlalu jauh meninggalkan kata syukur yang indah itu sementara begitu banyak yang sesungguhnya bisa disyukuri di dalam hidup ini. Mukjizat itu selalu ada ketika ada rasa syukur sejati yang lahir dari jiwa yang senantiasa bertobat.

           Jangan pernah berpikir Tuhan tak pernah peduli dan mendengarkan doa ataupun harapan-harapan kita. Sebaliknya Tuhan justru senantiasa mengasihi dan memberkati kita semua bahkan terkadang tanpa kita sadari. Begitu banyak mukjizat kasih yang telah diturunkan Tuhan untuk kita, bahkan yang paling sederhana dan sering terlewatkan adalah bahwa ternyata mukjizat Tuhan ada pada setiap helaan nafas dan detakan jantung ini.

            Pernahkah kita bertobat atas segala kelancangan diri yang tak pernah mampu mensyukuri setiap berkah Tuhan? Sudahkah mempertobatkan segala kebodohan diri yang terus berkeluh-kesah di hadapan Tuhan menuntut ini dan itu sementara kita sudah diberkahi begitu berlebih oleh limpahan kasih-Nya? Jangan sampai lupa untuk bertobat atas segala kesesatan dan kebodohan diri yang terus berkira dengan Tuhan sementara Tuhan tak pernah sekalipun menuntut balasan atas segala berkah yang telah diberikan-Nya.

            Di mata seorang yang tak tahu bersyukur maka kebahagiaan itu selalu terasa pincang dan kurang bahkan tak pernah sempurna. Ada saja yang dikeluhkan atau disesali sehingga kebahagiaan yang semestinya sempurna justru tampak begitu pincang dan tidak berarti. Padahal kalau mampu mensyukuri segalanya niscaya tak ada kebahagiaan yang tidak sempurna. Justru sebaliknya selalu ada keindahan di dalam kejelekan dan terang di dalam kegelapan. Mampu bertobat di dalam syukur dan bersyukur di dalam pertobatan maka kebahagiaan itu selalu sempurna dan indah.

            Melihat ada orang yang bisa begitu berwelas asih memikirkan orang lain dan melupakan diri sendiri, rasanya diri ini begitu egois selalu berkeluh kesah dan memohon tak habis-habisnya pada Tuhan. Tak mampu bersyukur meski di dalam kelebihan dan kenyamanan, sementara di luar sana begitu banyak orang-orang yang mampu bersyukur di dalam kekurangan dan keprihatinan. Sungguh picik dan bodohnya diri ini yang terlalu angkuh untuk sekadar bertobat dan bersyukur meski di dalam keberlimpahan dan kenyamanan, sementara banyak di antara mereka yang justru mampu bertobat dan bersyukur di dalam kekurangan dan keterpurukan.

            Ketika hidup terus disyukuri maka tak ada lagi keluh-kesah apalagi suara-suara sumbang yang terus menuntut keadilan yang tak pernah berhenti bergaung di sudut hati. Ketika hidup tak pernah disesali sebaliknya dijalani dengan ringan dan leluasa pastilah tak akan terus lagi menuntut tanpa pernah puas mencari-cari kesalahan orang atau mencari dukungan dan keadilan ke mana-mana. Kadang kita berpikir, mengapa tidak mengalah sedikit demi sebuah kebaikan kelak yang jauh lebih berarti? Mengapa tidak bisa bersyukur dan bertobat padahal akan selalu ada kebaikan pada akhirnya?

            Kadang kalau dipikir-pikir, boleh jadi kita akan merasa sangat benci dengan diri sendiri. Mengapa tak pernah sekalipun bisa berdamai dengan masalah, sesama juga diri sendiri? Mengapa harus selalu ada pertikaian dan mengapa terus saja mengulang segala kebiasaan buruk dan perbuatan yang jelas-jelas menyakiti dan merugikan sesama. Mengapa dan sejuta mengapa terus menghantui episode kehidupan kita yang sangat rumit lantaran kebodohan dan ketercekatan diri.

            Padahal mestinya kehidupan boleh jadi sangat enteng untuk dilalui tetapi menjadi begitu rumit ketika ego dan keserakahan menguasai diri sehingga tak pernah bisa mensyukuri segalanya. Jangan pernah berasumsi perjalanan hidup kita begitu berliku lantaran Tuhan tidak mengasihi kita. Sebab kenyataannya justru kita sendirilah yang tak pernah mampu memahami cinta kasih Tuhan dan segala rencana indah-Nya untuk kita sehingga tak mampu bersyukur dan bertobat. Bahkan justru kitalah yang tak mampu mengasihi diri sendiri sehingga terus hidup di dalam keluh-kesah dan keterpurukan yang dibuat sendiri. Padahal kalau mau sedikit memakai hati nurani pastilah tak akan pernah berani lagi untuk menuntut ini dan itu dari Tuhan. Bahkan sebaliknya dengan penuh kerendahan hati akan segera berlutut memohon ampun kepada Tuhan, bertobat dan bersyukur atas segala berkah karunia-Nya. Ketika mampu bersyukur dan bertobat, ternyata hidup tidaklah serumit dan seterjal yang dikira. Sebaliknya justru menjadi begitu ringan dan lapang atau enteng untuk ditapaki. Lantaran rasa syukur di dalam jiwa sekaligus kerendahan hati untuk bertobat membuat segalanya menjadi lebih mudah dan indah.


Terima kasih, Tuhan!
Atas segala berkah dan karunia-Mu yang indah ini.
Semoga selalu ada rasa syukur dan pertobatan,
baik di dalam kenyamanan maupun keprihatinan...


No comments:

Post a Comment