Berikut adalah sejarah panjang dan filosofi di balik hari yang penuh makna ini.
1. Arti di Balik Nama "Cheng Beng"
Secara
etimologi, Cheng berarti cerah dan Beng berarti terang. Nama ini merujuk pada
salah satu dari 24 posisi matahari dalam penanggalan tradisional Tiongkok.
Pada periode ini, cuaca di daratan Tiongkok biasanya mulai menghangat, langit menjadi cerah, dan tumbuh-tumbuhan mulai bersemi. Secara alamiah, ini adalah waktu yang paling indah untuk melakukan aktivitas di luar ruangan, termasuk mengunjungi makam leluhur.
2. Legenda
Tragis Jie Zhitui (Festival Hanshi)
Akar sejarah
Cheng Beng sangat erat kaitannya dengan sebuah kisah pengorbanan yang menyentuh
hati pada masa Dinasti Zhou (sekitar 600 SM).
Pengorbanan Luar Biasa: Tersebutlah seorang abdi setia bernama Jie Zhitui yang mendampingi Pangeran Wen dari Negara Jin saat dalam pengasingan. Ketika sang pangeran kelaparan, Jie memotong sebagian daging pahanya sendiri untuk dimasak dan diberikan kepada pangeran agar tetap bertahan hidup.
Tragedi di Gunung Mian: Setelah Pangeran Wen naik takhta menjadi raja, ia sempat melupakan jasa Jie. Ketika teringat, ia mencoba memanggil Jie kembali, namun Jie memilih hidup sederhana di hutan bersama ibunya. Karena putus asa, sang raja membakar hutan untuk memaksanya keluar, namun Jie justru ditemukan tewas terbakar sambil memeluk pohon dedalu.
Lahirnya Festival Makanan Dingin: Untuk mengenang penyesalan tersebut, raja menetapkan hari kematian Jie sebagai Festival Hanshi (larangan menyalakan api dan hanya makan makanan dingin).
3. Evolusi Menjadi Tradisi Nasional (Dinasti Tang)
Meskipun
penghormatan leluhur sudah ada sejak lama, ritual ziarah makam secara massal
baru diformalkan pada masa Dinasti Tang (732 M).
Pada masa itu, Kaisar Xuanzong melihat masyarakat sering melakukan upacara penghormatan secara berlebihan dan tidak beraturan. Beliau kemudian mengeluarkan maklumat bahwa ziarah makam secara resmi hanya boleh dilakukan sekali setahun pada hari Qingming. Sejak saat itulah, aktivitas membersihkan makam (Shao Mu) menjadi tradisi wajib bagi seluruh lapisan masyarakat.
Makna dan Tradisi Utama Saat Ini
Tradisi Cheng Beng yang kita kenal sekarang mencakup beberapa poin inti:
Bakti (Xiao): Wujud nyata penghormatan anak cucu kepada orang tua atau leluhur yang telah tiada.
Pembersihan Makam: Membersihkan rumput liar, mengecat ulang nisan, dan memastikan tempat peristirahatan leluhur tetap terjaga.
Penutup
Cheng Beng
adalah momen pengingat bagi kita yang masih hidup bahwa kita memiliki akar
sejarah yang kuat. Melalui tradisi ini, nilai-nilai kesetiaan, pengorbanan, dan
rasa bakti terus dijaga agar tidak luntur oleh waktu.
No comments:
Post a Comment