March 25, 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Cheng Beng: Dari Legenda Kesetiaan Hingga Tradisi Ziarah

Setiap memasuki awal April, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia merayakan sebuah momen penting yang dikenal sebagai Cheng Beng (atau Qingming dalam bahasa Mandarin). Di Indonesia, momen ini sering kali menjadi ajang reuni keluarga besar di area pemakaman. Namun, tahukah Anda bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual membersihkan makam?

Berikut adalah sejarah panjang dan filosofi di balik hari yang penuh makna ini.

1. Arti di Balik Nama "Cheng Beng"

Secara etimologi, Cheng berarti cerah dan Beng berarti terang. Nama ini merujuk pada salah satu dari 24 posisi matahari dalam penanggalan tradisional Tiongkok.

Pada periode ini, cuaca di daratan Tiongkok biasanya mulai menghangat, langit menjadi cerah, dan tumbuh-tumbuhan mulai bersemi. Secara alamiah, ini adalah waktu yang paling indah untuk melakukan aktivitas di luar ruangan, termasuk mengunjungi makam leluhur.

2. Legenda Tragis Jie Zhitui (Festival Hanshi)

Akar sejarah Cheng Beng sangat erat kaitannya dengan sebuah kisah pengorbanan yang menyentuh hati pada masa Dinasti Zhou (sekitar 600 SM).

Pengorbanan Luar Biasa: Tersebutlah seorang abdi setia bernama Jie Zhitui yang mendampingi Pangeran Wen dari Negara Jin saat dalam pengasingan. Ketika sang pangeran kelaparan, Jie memotong sebagian daging pahanya sendiri untuk dimasak dan diberikan kepada pangeran agar tetap bertahan hidup.

Tragedi di Gunung Mian: Setelah Pangeran Wen naik takhta menjadi raja, ia sempat melupakan jasa Jie. Ketika teringat, ia mencoba memanggil Jie kembali, namun Jie memilih hidup sederhana di hutan bersama ibunya. Karena putus asa, sang raja membakar hutan untuk memaksanya keluar, namun Jie justru ditemukan tewas terbakar sambil memeluk pohon dedalu.

Lahirnya Festival Makanan Dingin: Untuk mengenang penyesalan tersebut, raja menetapkan hari kematian Jie sebagai Festival Hanshi (larangan menyalakan api dan hanya makan makanan dingin).

3. Evolusi Menjadi Tradisi Nasional (Dinasti Tang)

Meskipun penghormatan leluhur sudah ada sejak lama, ritual ziarah makam secara massal baru diformalkan pada masa Dinasti Tang (732 M).

Pada masa itu, Kaisar Xuanzong melihat masyarakat sering melakukan upacara penghormatan secara berlebihan dan tidak beraturan. Beliau kemudian mengeluarkan maklumat bahwa ziarah makam secara resmi hanya boleh dilakukan sekali setahun pada hari Qingming. Sejak saat itulah, aktivitas membersihkan makam (Shao Mu) menjadi tradisi wajib bagi seluruh lapisan masyarakat.

Makna dan Tradisi Utama Saat Ini


Tradisi Cheng Beng yang kita kenal sekarang mencakup beberapa poin inti:

Bakti (Xiao): Wujud nyata penghormatan anak cucu kepada orang tua atau leluhur yang telah tiada.

Pembersihan Makam: Membersihkan rumput liar, mengecat ulang nisan, dan memastikan tempat peristirahatan leluhur tetap terjaga.

Penutup

Cheng Beng adalah momen pengingat bagi kita yang masih hidup bahwa kita memiliki akar sejarah yang kuat. Melalui tradisi ini, nilai-nilai kesetiaan, pengorbanan, dan rasa bakti terus dijaga agar tidak luntur oleh waktu.


No comments:

Post a Comment